penderitaan itu adalah hiburan

Mungkin tak ada yang percaya kalau saya bilang, “saya tak pernah ke bioskop nonton film apapun”. Bukan karna saya nggak suka ceritanya tapi lebih karena di bioskop itu terlalu banyak orang. Berdesakan melihat tontonan atau drama apalagi bagi saya suatu tindakan sia-sia. Setidaknya mungkin itu alasan yang dapat saya temukan untuk menyangkal ketidak gaulan saya. Tapi saya rasa alasan itu ada benarnya, knapa harus melihat ke bioskop hanya untuk melihat tontonan seperti itu. Di TV juga sering kok. Di kehidupan sehari-hari juga banyak. Original malah.

Begitu banyaknya cerita-cerita kehidupan yang di gambarkan lewat film yang kadang kenyataannya terlalu di besar-besarkan. Cerita tentang kehidupan keluarga yang sering cekcok bukankah hal itu sudah biasa di sekeliling kita? Cerita anak angkat yang di buang oleh orang tuanya tanpa pesan atau jejak yang dapat di telusuri bila suatu saat anaknya ingin bertemu sama orang tuanya lagi misyalnya. Toh kejadian seperti itu sudah tak asing bagi kita. Cerita tentang pasangan suami istri yang saling mencintai tapi malah berantem tiap hari dirumah yang kemudian malah memberikan trauma terhadap anaknya. Cerita tentang kejujuran yang membuat penderitaan yang harus di pegang seumur hidup atau cerita-cerita kehidupan lainnya. Klise dan terlalu dibesar-besarkan.

Yang anehnya lagi film-film itu di sebut sebagai alat untuk menghibur diri. Menggelikan menonton penderitaan orang lain disebut sebagai hiburan. Bagi saya itu suatu hal yang sangat tidak manusiawi. Atau itu inti dari semua kegiatan menonton itu? Mengeluarkan sisi kebinatangan kita dengan halal?

Mungkin sebelum film itu selesai kita bahkan sudah tau gimana akhirnya, gimana akhirnya sang anak angkat akan mencari kehidupan di tempat lain selain keluarganya. Atau pasangan suami istri yang saling mencintai itu akhirnya malah saling menyakiti diri sendiri dan juga anaknya. Atau kejujuran yang akhirnya di tutupi oleh kebohongan agar kebahagiaan dapat diperoleh. Dan sebagainya…dan sebagainya.

Sama aja dengan kehidupan sehari-hari disekeliling kita bahkan orang yang telah ditinggalkan mungkin sudah tau bahwa yang meninggalkan nggak akan kembali dan membuat penderitaan menjadi lebih ringan. Kepedihan dan penderitaan mungkin saja tak berujung, kebosanan dan kejenuhan mungkin tak juga bisa berubah menjadi anjing-anjing jahil yang bermain-main mengejar anak-anak kampung yang berlalri di depan rumah.

Tapi tak ada satupun dari penonton film-film drama itu walaupun mereka mengeluarkan airmatanya sebagai tanda merasakan penderitaan itu mengerti benar apa artinya sakitnya penderitaan.

Advertisements

12 Comments

Filed under present

12 responses to “penderitaan itu adalah hiburan

  1. seriuss ga pernah ke bioskop..?? waaa.
    eh temenku jg ada yg blom pernah ke biskop sampe hari gini πŸ™‚ hehe..
    alesannya ga suka gelap2an πŸ™‚

  2. Buddha bilang,

    hidup adalah penderitaan…

    Joyo bilang,

    Buddha benar…

    πŸ˜€

  3. penderitaan bisa jadi menjadi jalan menuju pada hakikat dan kemuliaan hidup yang sesungguhnya. makin banyak penderitaan yang kita alami, makin banyak nilai2 kearifan hidup yang mampu mematangkan rohaniah kiat. *sok tahu nih*

  4. hiburan biasa sepintas, tapi kalu mengapresiasi berarti menyimak dengan sungguh dan sedang mencari hikmah dari cerita tersebut. Tidak setiap orang melihat (mendengar) cerita untuk dinikmati dan dihayati tapi hanya “sekedar” angin lalu (hiburan sesaat). πŸ˜€

  5. #Yoenday
    kalau begitu saya mirip dengan dia.
    πŸ™‚

    #Joyo
    saya bilang,
    joyo benar

    #Sawali Tuhusetya
    mungkin ada benarnya pak, sebuah batu di tempa sedemian rupa bisa menjadi sangat berharga. tapi bila terus2an di tempa oleh benda keras dia juga bisa hancur berantakan. 50:50 lah….
    itu menurut saya yang juga sok tau πŸ˜€

    #awan
    saya rasa juga begitu, orang yang dapat bener2 menikmati suatu cerita adalah orang yang merasakan dia mengalami apa yang diceritakan.

  6. Saya hanya tahu bahwa penderitaan adalah lawan kata dari kebahagiaan.. Selebihnya, saya berusaha menikmatinya ketika ia mampir ke dalam hidup saya.. πŸ˜€

  7. hmm…

    bagaimana dengan reality show yang “katanya” menayangkan fenomena sebenarnya (ntah benar apa bukan)?

    apakah memang yang bermaksud menayangkan realita kehidupan itu, misalnya ada orang susah terus cacat kemudian seakan-akan bisa mengundang simpati orang?…atau hanya mencari keuntungan semata dari orang susah ini?

    banyak tanda tanya di atas, yang memang kita sendiri tidak tahu apa alasan/motifnya? (berbaik sangka mungkin)…akan tetapi saia sangat menyayangkan klo ada pihak yang bermaksud/telah memonopoli penderitaan orang menjadi suatu tayangan hiburan mengundang simpati…

    IMHO

  8. ada yang mengatakan, kalau suka cerita yang sedih-sedih biasanya tidak pernah merasakan penderitaan.
    katanya lo ya…..

  9. bagi orang tertentu, penderitaan orang lain adalah hiburan bagi dirinya. tapi bagi yang mengalami penderitaan, maka penderitaan bisa mengantarnya menuju kebahagiaan, asalkan sabar menjalani.
    btw, nggak pernah ke bioskop? saya sih pernah, walaupun jarang. tapi memang lebih enak menonton di rumah. Itu kalau tujuannya menonton saja. Kalau sambil jalan-jaan terus mampir bioskop, pasti lain lagi ceritanya.

  10. kalo ada orang yang merubah hidupnya jadi lebih baik gara2 film gimana dong….
    mau dipersalahkan juga?

  11. #qzink666
    menurut saya tak ada penderitaan yang dapat di nikmati. mungkin yang dinikmati itu adalah kepedihannya.

    #zahra
    yup bisa saja seperti itu, mungkin penderitaan orang lain memang sangat laku dijual di media hiburan.
    atau mungkin untuk melupakan kepedihan diri sendiri kita harus melihat kepedihan orang lain?
    hmmmm…..
    bisa jadi.

    #itikkecil
    katanya mungkin benar. kata kamu gimana?

    #artja
    kesabaran dan penderitaan satu paket yang harus ditelan. Seperti obat.

    #kidungjingga
    kalau ternyata ada pengaruh buruk dari film itu terhadap cara pikir seseorang memandang hidupnya yang kemudian membuat hidupnya semakin menderita apa kemudian hal itu dapat dibenarkan?
    saya tak mencoba untuk menyalahkan dan membenarkan. Segala sesuatu mungkin baik dipandang dari berbagai sudut, baru kemudian membuat satu keputusan.

  12. saya merasa punya kebebasan untuk memilih antara menderita dan bahagia. karena saya adalah makhluk yang sangat merdeka.

    apabila mereka datang lagi, saya akan abstein.
    ya,..
    karena saya makhluk yang sangat merdeka,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s