home

everybody’s back home
but i don’t have a home

Advertisements

3 Comments

Filed under future

tak mengerti cinta

Satu kali perjalanan ke suatu tempat yang sering dijadikan orang sebagai tempat berlibur saya menemukan jati diri bahwa laki-laki itu penampar dan wanita adalah makhluk yang suka sekali menyambar.

Di sebuah sudut bar dan di temani beberapa bir di atas meja saya duduk sendirian melihat tingkah laku para turis yang sedang bersuka ria menari tertawa dan mabuk. Di sebuah meja tak jauh dari meja saya ternyata ada seorang bule yang sedang patah hati. Tapi sepertinya bule itu tak begitu kaya, setelah minumannya habis dia lalu datang ke meja saya dan mulai meminta minuman saya dan berlagak akrab dengan memulai beberapa percakapan menggelikan menjelek-jelekkan pacarnya.

Seingat saya dia tak pernah menanyakan nama apalagi menanyakan hal-hal pribadi tentang diri saya tapi mulutnya terus saja menceritakan tentang dirinya seperti senapan mesin. Saya bukan orang yang ramah dan dapat dengan gampang berbicara dengan orang lain. Dan saya rasa dia juga nggak begitu peduli dengan semua jawaban satu dua patah kata dari saya ketika dia minta jawaban dari pertanyaan-pertanyaan bodohnya.

Entah karna pengaruh minuman atau karena memang suasana dia lalu mulai menciumi dan memeluk. walaupun sudah beberapa kali di tolak ternyata bule itu masih saja terus menempel. mungkin mau dibelikan minuman lagi. Tak berapa lama setelah itu datang seorang anak pantai berbadan tegap dan tak memakai baju. Tanpa banyak bicara laki-laki itu langsung saja menampar perempuan itu dan menjatuhkan beberapa botol minuman. Entah apa yang mereka bicarakan setelah itu saya tak begitu ingin mendengarkan, mereka sibuk saling memaki dan saling mendorong. Orang-orang mulai datang mengerumuni, saya tak berniat untuk menghabiskan malam itu duduk diantara dua orang yang sedang saling kasih-mengasihi sambil memaki dan mengeluarkan kata-kata kotor, saya terlalu bosan melihat hal seperti itu dari kecil. lalu saya keluar dan memanggil taksi untuk pergi ke club di tepi pantai.

5 Comments

Filed under past

penderitaan itu adalah hiburan

Mungkin tak ada yang percaya kalau saya bilang, “saya tak pernah ke bioskop nonton film apapun”. Bukan karna saya nggak suka ceritanya tapi lebih karena di bioskop itu terlalu banyak orang. Berdesakan melihat tontonan atau drama apalagi bagi saya suatu tindakan sia-sia. Setidaknya mungkin itu alasan yang dapat saya temukan untuk menyangkal ketidak gaulan saya. Tapi saya rasa alasan itu ada benarnya, knapa harus melihat ke bioskop hanya untuk melihat tontonan seperti itu. Di TV juga sering kok. Di kehidupan sehari-hari juga banyak. Original malah.

Begitu banyaknya cerita-cerita kehidupan yang di gambarkan lewat film yang kadang kenyataannya terlalu di besar-besarkan. Cerita tentang kehidupan keluarga yang sering cekcok bukankah hal itu sudah biasa di sekeliling kita? Cerita anak angkat yang di buang oleh orang tuanya tanpa pesan atau jejak yang dapat di telusuri bila suatu saat anaknya ingin bertemu sama orang tuanya lagi misyalnya. Toh kejadian seperti itu sudah tak asing bagi kita. Cerita tentang pasangan suami istri yang saling mencintai tapi malah berantem tiap hari dirumah yang kemudian malah memberikan trauma terhadap anaknya. Cerita tentang kejujuran yang membuat penderitaan yang harus di pegang seumur hidup atau cerita-cerita kehidupan lainnya. Klise dan terlalu dibesar-besarkan.

Yang anehnya lagi film-film itu di sebut sebagai alat untuk menghibur diri. Menggelikan menonton penderitaan orang lain disebut sebagai hiburan. Bagi saya itu suatu hal yang sangat tidak manusiawi. Atau itu inti dari semua kegiatan menonton itu? Mengeluarkan sisi kebinatangan kita dengan halal?

Mungkin sebelum film itu selesai kita bahkan sudah tau gimana akhirnya, gimana akhirnya sang anak angkat akan mencari kehidupan di tempat lain selain keluarganya. Atau pasangan suami istri yang saling mencintai itu akhirnya malah saling menyakiti diri sendiri dan juga anaknya. Atau kejujuran yang akhirnya di tutupi oleh kebohongan agar kebahagiaan dapat diperoleh. Dan sebagainya…dan sebagainya.

Sama aja dengan kehidupan sehari-hari disekeliling kita bahkan orang yang telah ditinggalkan mungkin sudah tau bahwa yang meninggalkan nggak akan kembali dan membuat penderitaan menjadi lebih ringan. Kepedihan dan penderitaan mungkin saja tak berujung, kebosanan dan kejenuhan mungkin tak juga bisa berubah menjadi anjing-anjing jahil yang bermain-main mengejar anak-anak kampung yang berlalri di depan rumah.

Tapi tak ada satupun dari penonton film-film drama itu walaupun mereka mengeluarkan airmatanya sebagai tanda merasakan penderitaan itu mengerti benar apa artinya sakitnya penderitaan.

12 Comments

Filed under present

Jika Kehidupan Itu Adalah Pilihan

Senjata api adalah senjata pembunuh yang sangat mematikan, sebuah malaikat pencabut nyawa yang di gunakan seperti sebuah tape kuno pemutar kaset. Tinggal di tekan maka akan terdengar bunyi yang akan memekakkan dan juga bisa menggembirakan penggunanya.

Seorang penyanyi terkenal berambut pirang dengan suaranya yang serak tak mampu menahan desakan peluru yang keluar sehingga menghabiskan nyawanya saat itu juga tapi ternyata telah mampu membuatnya menjadi seorang legenda yang akhirnya hidup sampai kapanpun.

Tak banyak memang manusia yang mampu menjalani hidupnya dengan nyaman dan tak membutuhkan turbolance yang dapat memutar balikkan keingginannya untuk kembali ke awal kehidupan itu mula di berikan. Semenjak awal saya tak pernah untuk meminta semua sahabat saya yang telah mati untuk dapat hidup kembali dan mengembalikan semua kenangan-kenangan yang mereka bawa mati.

Seorang pengkothbah janji surga diatas bukit mungkin akan berkata penderitaan akan memberikan kebahagiaan bagi mereka yang mau menerima keadaan yang pedih dengan kesabaran, dan sesungguhnya kebahagaiaan akan datang menyapa diakhir jalan cerita dongeng indahnya surga. Jika memang demikian adanya kehidupan itu maka janjinya akan kebahagiaan di ujung penderitaan yang panjang, maka saya yakin jika di berikan pilihan apakah kamu mau dilahirkan ke dunia? saya akan menjawab dengan tegas “TIDAK”

Tapi tidak begitu keadaan yang sebenernya terjadi, kita mau tak mau dilahirkan ke dunia. oleh orang yang tak dapat kita pilih siapa, orang yang mungkin akan langsung membuang anaknya begitu sang bayi baru saja menghirup kehidupan. Orang itu bisa saja adalah seorang kaya raya, miskin, hina, terpuji, atau apaun.

Kehidupan itu adalah suatu kebetulan, oleh karna itu mungkin yang ada dalam fikiran para penulis, artis terkenal yang memilih mati dengan desakan peluru yang keluar dari sebuah mainan menyerupai malaikat itu adalah sebuah keinginan yang tak dipenuhi. yaitu “bunuhlah saya ketika saya sedang berbahagia”.

Sebagai akhir dari postingan ini saya memilih sebuah kutipan dari sebuah tulisan dari seorang penulis fiksi yang sudah uzur oleh penderitaan hidup walaupun umurnya masih teramat muda. “hidup adalah lelucon yang samasekali tak lucu”

15 Comments

Filed under present

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Comment

Filed under past