Senjata api adalah senjata pembunuh yang sangat mematikan, sebuah malaikat pencabut nyawa yang di gunakan seperti sebuah tape kuno pemutar kaset. Tinggal di tekan maka akan terdengar bunyi yang akan memekakkan dan juga bisa menggembirakan penggunanya.
Seorang penyanyi terkenal berambut pirang dengan suaranya yang serak tak mampu menahan desakan peluru yang keluar sehingga menghabiskan nyawanya saat itu juga tapi ternyata telah mampu membuatnya menjadi seorang legenda yang akhirnya hidup sampai kapanpun.
Tak banyak memang manusia yang mampu menjalani hidupnya dengan nyaman dan tak membutuhkan turbolance yang dapat memutar balikkan keingginannya untuk kembali ke awal kehidupan itu mula di berikan. Semenjak awal saya tak pernah untuk meminta semua sahabat saya yang telah mati untuk dapat hidup kembali dan mengembalikan semua kenangan-kenangan yang mereka bawa mati.
Seorang pengkothbah janji surga diatas bukit mungkin akan berkata penderitaan akan memberikan kebahagiaan bagi mereka yang mau menerima keadaan yang pedih dengan kesabaran, dan sesungguhnya kebahagaiaan akan datang menyapa diakhir jalan cerita dongeng indahnya surga. Jika memang demikian adanya kehidupan itu maka janjinya akan kebahagiaan di ujung penderitaan yang panjang, maka saya yakin jika di berikan pilihan apakah kamu mau dilahirkan ke dunia? saya akan menjawab dengan tegas “TIDAK”
Tapi tidak begitu keadaan yang sebenernya terjadi, kita mau tak mau dilahirkan ke dunia. oleh orang yang tak dapat kita pilih siapa, orang yang mungkin akan langsung membuang anaknya begitu sang bayi baru saja menghirup kehidupan. Orang itu bisa saja adalah seorang kaya raya, miskin, hina, terpuji, atau apaun.
Kehidupan itu adalah suatu kebetulan, oleh karna itu mungkin yang ada dalam fikiran para penulis, artis terkenal yang memilih mati dengan desakan peluru yang keluar dari sebuah mainan menyerupai malaikat itu adalah sebuah keinginan yang tak dipenuhi. yaitu “bunuhlah saya ketika saya sedang berbahagia”.
Sebagai akhir dari postingan ini saya memilih sebuah kutipan dari sebuah tulisan dari seorang penulis fiksi yang sudah uzur oleh penderitaan hidup walaupun umurnya masih teramat muda. “hidup adalah lelucon yang samasekali tak lucu”
15 Comments
March 31, 2008 at 8:41 am
Selamat Pagi Sahabat, terima kasih ucapannya di blog saya…ini blog kok masih mulus..baru ganti baju yah….menarik sekali artikelnya…saya berharap akan muncul terus artikel2 menarik untuk menambah pengalaman dan pemahaman sahabat2 lainnya, terima kasih n salam
March 31, 2008 at 11:13 am
saya ko lebih setuju kalo yang jadi pilihan itu bukan ‘kehidupan’nya, tapi ‘cara’ kita menjalani kehidupan itulah yang jadi pilihan…
March 31, 2008 at 1:02 pm
Yup.stuju ama pendapatnya kidungjingga.bukan khidupan yg jadi pilhn,tp gmana cr kt memandang n menjalani hidup jauh lebh pentin. Thanks ats kunjungannya.
March 31, 2008 at 1:02 pm
Salam
Jangan terlalu cepat menyimpulkan sobat, karena ketika kita telah menyimpulkan maka hidup kita pun berakhir. Kita harus terus belajar untuk menggali apa makna hidup ini.
March 31, 2008 at 1:37 pm
hello
aku pikir yg Diatas ga akan menciptakan sesuatu yg buruk…
mnrtku pribadi hidup itu indah kok…
March 31, 2008 at 2:21 pm
hei, trima kasih sudah berkunjung…:)
March 31, 2008 at 11:50 pm
#Eddy Prasetyo
makasih atas pujiannya mas, tapi blog ini memang baru. saya tak yakin tulisan ini memberikan pengalaman dan juga masukan yang baik untuk yang membacanya. tapi terimakasih udah mau meluangkan waktu membaca nya.
#kidungjingga
yah saya rasa itu ada benarnya,
mungkin saya harus mencari cara mengisi kebosanan ini dengan kegiatan yang baru. ngeblog sejauh ini sangat menyenangkan ternyata karna saya jadi punya banyak teman.
#Neozam
ketika pandangan dan yang dirasakan membuat kehidupan menjadi suatu hal yang tak dapat diterima oleh hati. disitulah masalahnya mulai terasa.
#Dimas
salam dimas
makasih atas sarannya.
saya bukannya mau berhenti belajar tapi saya cuma mau cepat lulus.
#Carra
tapi bukankah Dia juga bilang selalu menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan?
#Asfi
sama-sama
@all
thx yah dah membalas kunjungan saya.
April 1, 2008 at 8:37 am
curahan isi hati ya?
April 1, 2008 at 10:08 pm
mas..
kalo nanti mo bunuh diri..
jangan lupa ajak gw yaa…
ato kalo emang pengen mati sendiri
wasiatnya bwat gw aja..hahaha…
*evil smile mode on
April 2, 2008 at 5:14 am
menertawakan kepedihan lucu juga.
tapi nggak lucu2 kali lah.
huhuhu
April 2, 2008 at 4:56 pm
menurutku tidak lagi penting menanyakan apakah hidup itu pilihan atau kebetulan. Karena jika sampeyan menulis ini, artinya sampeyan telah diberi akses limited time based didunia.
Yang jadi persoalan adalah bagaimana memanfaatkan akses terbatas itu, ada lebih banyak pertanyaan yang lebih urgen untuk dibahas, digugat dan disesali. Apalagi untuk orang secerdas anda
April 3, 2008 at 6:26 pm
saya suka dengan kalimat ini…
ada peleburan antara kepasrahan dan pengharapan…
April 4, 2008 at 9:16 am
#nexlaip
#dny_uhuuy
makasih
#bedhiah
memang nggak terlalu lucu.
thx yah bro …
#lainsiji
wah saya nggak cerdas.
saya hanya sedang tergoda untuk membahas masalah ini, mungkin lain kali ada masalah lain yang lebih menarik. siapa tau?
#Qzink666
April 4, 2008 at 2:54 pm
kita udah kepalang hiduup..
hadapi hidup atau mati sekarang…
April 5, 2008 at 12:32 am
#tonKin
yup saya rasa kamu benar,
sekali lagi saya menulis judul diatas. seandainya Kehidupan Itu Adalah Pilihan.